Zulfa Blog's

Gallery
















HARI YANG ANEH 09.24

Kabut pagi ini masih tebal, membawa dinginnya dibuta ini, embun diatas ilalang tak jua mengering, dan burung seriti itu beterbangan tak tentu arah.
Pagi yang cerah, angin berhembus lembut mendamaikan hati, terlintas di fikiranku sepotong wajah yang selalu mengusik hati, wajah yang selalu membuatku merasa kanngen berat. Wajah itu lembut, putih langsat, dan Nampak selalu senyum merendahkan hati. Dian! Itulah nama empunya wajah cantik itu.
Dian. namanya begitu sederhana, tapi gadis ini tak kalah indah, dia begitu sederhana, baik, dan tidak pernah sombong terhadap siapapun!
Disaat aku merasa sepi karena tak ada seorang pun yang mampu membuatku nyaman, membuatku merasa terlindungi, dan membuat hari-hariku terasa bermanfaat. Disaat hati bertanya-tanya pada Sang pencipta tentang kehidupanku yang sendiri. Kapan seorang bidadari dengan segala kelembutannya itu dating padaku? Sesungguhnya hal itu tak perlu ditanyakan lagi pada Sang khalik, karena aku yakin Dia sudah mengatur segala sesuatu yang berjalan di bumi ini. Aku sebagai mahluk ciptaan-Nya yang lemah hanya bias wait and see.
Disaat itu datanglah sosok yang ku impikan, seorang ghadis dengan sepasang sayap putih lebar tertempel di punggungnya, dengan tongkat yang ia bawa, ia kelihatan lebih indah. Wajahnya tak terlihat jelas, hanya cahaya putih yang ada saat itu. Siapa dia? Benarkah Tuhan mendengar seruanku? Dan kini Dia mengirim bidadari-Nya untuk menemanmiku?
“Bangun! Cepet mandi! “
“Iya bu, sebentar! Masih ngantuk ni..!” jawabku malas. Ibu tak menyerah, diseretnya selimut yang aku gunakan untuk tidur sehiongga aku merasa kedinginan, dan ibu mengoyok-oyok tubuhku hingga aku bosan dengan gangguan tidur semacam ini. Seprti biasa, ibu lagi-lagi membuat tidurku tidak nyaman. Lalu dengan malas aku ke kamar manid dengan mata yang masih merem-melek!
Sejam kemudian aku, ibu, bapak, adik dan masku berkumpulk di meja makan. Acaranya sekarang adalah sarapan pagi.aku suka dengan acara seperti ini, karena kamiu jarangt banget kumpul keluarga seperti yang aku lakukan pagi ini. Bapak sibuk dengan sawahnya, ibu sibuk dengan sapinya, adik sibuk dengan temen-temen mainnya, dan kakakku masih sibuk dengan ujiannya. Hari ini hari minggu, kami semua makan dengan khidmad, berbincang-bincang dengan banyak hal.
“Bagaiman dengan ujianmu, le?” Tanya bapakku pada masku. “ Insya Allah udah siap kok pak!” jawab masku yakin. “yang penting kamu tetep belajar terus ya, le!” kini suara ibu terdengar lebih meyakinkan. “bapak ma ibu selalu mendo’akanmu kok, le! Asal kamu sekolahnya yang bener.” Tambahnya. “ enggih bu!” jawab kakakku sambil manganggukkan kepalanya.
“Kalau kamu gimana sekolahnya? Gak ada masalah kan , le?” giliran bapak menanyaiku. “ baik-baik juga kok pak, malah sekarang aku senang dengan pelajarannya.
“Lho, emang kemaren-kemaren gak suka ya?” Tanya adikku yang masih kecil. Dia baru kelas 4 SD di MI MAARIF, sekolahanya tidak jauh dari tempat kami bernaung, sekitar satu kilometer dari rumah, untuk sampai ke sekolah adikku jalan kaki bersama teman-teman yang lainnya.
“E…h bukannya gitu, dik!” jelasku
“Lha terus apa dong kak?” bapak, ibu sama kakak hanya tertawa kecil melihat kami berdua berdebat. Tak seharusnya kejadian ityu tewrjadi saat sarapan begini. Ah adikku…
“ Nanti setelah makan, bantu ibu cari rumput ya, le!” pinta ibu pada kami berdua, aku dan kakakku, adikku hanya akan mengotori halaman rumah bersama teman temannya.
“O…enggih bu!” jawabku sambil menganggukkan kepala. Lalu ibuku keluar dengan membawa senjata yang basa kami gunakan untuk merumput. Arit! Ityulah nama benda yang kami gunakan. Alatnya hamper sam dengan pisau belati, hanya kalu arit lebih besar dan menyerupai clurit! Bias dibilang sbitlah!
“ Ibu tak ngasah arit dulu ya, biar landhep” kata ibu sebelum beliau pergi.acara makan selesai dan acar ‘bekerja’ dimulai. Ayah mengambil seragam sawahnya yang dekil, dan sepatuinya yang besar tinggi itu beliau kenakan untuk melindungi kakinya. Dan ibu siap dengan sabitnya, bersamaan dengan siapnya kami berdua, aku dan kakakku pergi cari makan buat si-emoh.
“Jangan lupa bawa ‘mujah’nya. Nanti biar gak sakit!” pinta ibu kepadaku. “ siap bu!perlengkapan sudah siap!” jawabku dengan suara senang. “ bagus, le! Nanti bawanya sedikit-sedikit aja, jangan kayak dulu, kalo ‘kabotan’ lagi yang payah ibu!oke?” kata-kata ibu terus kami dengar, sebelem ibu pergi mengambil sabit ia tersenyum dan dengan wajah tuianya itu bibir ibu komat-kamit entah apa yang beliau ucapkan.
“Aku dan mas pergi duluan aja ya, bu! Ntar ibu nyusul kesana” pintaku kepada ibu yang masih siap-siap. “ ya udah sana duluan gak apa-apa, nanti ibu menyusul.” Jawabnya ringan dengan muka jernih meski termakan usia.
Aku dan masku mulai berjalan menuju tempat yang banyak rumputnya. Dan kami senang dengan pekerjaan ini. Mmbutuhkan waktu dua jam untuk menyelesaikan tugas ini. Dan butuh waktu tiga puluh menit untuk kembali pulang. Jadi rata-rata kami merumput selam dua setengah jam. Siang ini panas sekali, musim hujan mungkin dimulai minggu depan, aku merasa lapar dan haus, aku duduk dibawah pohon gnetum gnemon yang ada di ujung ‘galengan’ ini. Kurasakan udara berubah menjadi sejuk, panas matahari sudah tak terasa menghujami diriku yang kecil, rasa laparpun seperti agak berkurang setelah aku menduduki bawah pohon gnetum gnemon ini.
Ku lihat ibuku berjalan mendekatiku, dengan senyumnya yang khas ibu mengulurkan tangannya yang lembut, lalu membawaku melayang menjauhi bumi, ke tempat yang belum pernah aku jamahi, tak ada batasan, terang, dan sulit untuk keluar kembali ke bumi. Tak ada tanda apapun disana, hanya terlihat sekelomp[ok makhluk kecil dengan topi seragam, kira-kira mereka berjumalah sepuluh. Badannya pendek, kakinya tegap, dan sesuatu yang membuatku geli yaitu sepatunya yang besar dan sama sekali tidak cocok dengan ukuran badannya. Aku rasa mereka juga merasakan hal yang kurasakan mengenai sepatu besar itu. Mereka pasti merasa keberatan memakai sepatu yang diberikan ibu mereka, tapi wajah yang mereka tunjukkan berbeda, mereka malah memamerkan kekompakkan mereka dengan gaya berjalannya yang terkesan seperti tentara jadul alias jaman dulu.
“Ada yang aneh dengan kami?” salah satu dari mereka bertanya dengan gaya bicara aneh. Aku menggeleng, “lalu kenapa kamu memandang kami dengasn tatapan seperti itu?”. Aku pun hanya bias menggeleng, wajahnya yang berubah menjadi marah itu membuatku kehilangan percaya diri. Seolah ia tak mengijinkankan aku untuk menjawab pertyanyaannya.
“Sudah berapa lam kamu disini?” mereka sekali lagi bertanya, dan sekali lagi pula aku menggeleng, mereka semakin penasaran dengan sikapku pada mereka, lalu salah satu dari mereka bertanya dengan sopannya. “ dengan siapakah anda kemari?”. “dengan ibu!” kuberanikan untuk menjawab. “dimana sekaang ibumu, nak?” tanyanya lagi. “ aku tak tahu kemana ibu pergi. Seingatku aku diajak ke tempat aneh seperti ini dan ibu menghilang begitu saja.” Kuceritakan apa yang terjadi sebenarnya. Tapi aku semakin bingung.
“Anda tahu apa nama tempat ini?.” Kutanyakan hal itu karena aku benar-benar bingung diman tempat yang sebenarnya sedang ku injak ini? Masihkah di bumi? Atau di luar angkasa? Aku tak ambil pusing, aku hanya menunggu jawaban dari mereka yang kukira juga lebih mengerti tentang tempat aneh ini.
“Benarkah kamu tidak tahu dimana kita sekarang ini?” mereka balik nanya kepadaku, lalu aku menggeleng dan si tua pendek itu mendekat, “ Kasihan sekali kamu nak!”
“kamu mengalami nasib seperti kami, nak! Kamu terjebak di tempat yang tak ada seorang pun mengetahuinya. Apa kamu ingin kembali?”. Aku mengangguk. Dipanggilnya sebuah kendaraan aneh berbentuk bulat tak bermesin itu ke hadapanku, aku terheran-heran. “Kalian menyuruhku menaiki kendaraan aneh ini?” tanyaku heran. “ya, kecuali kau akan tetap disini!” jawabnya ketus. Tanpa piker panjang kali lebar aku menaiki kendaraan itu.
“ Lan, Alan..!”
“ Ada apa? Apa yang terjadi? Dimana kEndaraan ajaibku?”
“Ah, kamu ngomong opo? Dari tadi kamu dicariin ibu, kemana aja kamu?” ternyata itu masku,
“ Aku baru saja berpetualangan dengan sepuluh liliput di negeri tak dikenal.” Jawbku.
“ Waduh, kamu makin ngawur ni ngomongnya.”
“ Bener mas, tadi aku kesana sama ibu, kakak ga ikut sih!” jawabku meyakinkan.
“ Ha?sama ibu? Kemana? Seharian ibu nyari kamu je. Apa itu alas an kamu buat gak ikut merumput?hayo…!” goda kakakku.
“ Ah, ya sudahlah! Mas paling-paling juga gak percya.”
“Percaya apa? Ah, sudah yuk kita pulang! ibu nunggu dirumah tuh.” Pinta kakakku tergesa-gesa.
Kulihat sebuah pohon gnetum gnemon yang berdiri kokoh itu. Ada apa dengan pohon itu? Aku semakin penasaran dengannya, rasanya aku pengen maen kesana lagi, biar aku bias menaiki kwendaraan aneh itu.
Tiba dirumah kulihat ibu khawatir denganku, beliau terus menerus mewnghujani aku dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama. “ kemana saja to kamu itu le? Bikin orang bingung saja!”. “mbok ya bilang kalau mau pergi main!” begitu terus menerus beliau luncurkan hingga beliau merasa bosan dan melanjutkan memasaknya. Sementara aku masih mencoba menjawab teka-teki itu.
“ Biarkan hanya aku yang merasakan hal seperti itu.” Bisikku dalam hati. Ku jatuhkan tubuhku di atas kasur busa tipis itu. Terasa lelah sekali.

BRUNO SI BERUANG CERDIK 11.57



Bruno dan Buba adalah dua ekor beruang kecil yang lucu. Mereka hidup di sebuh gua bersama ibu beruang yang sudah tua.
Bruno dan Buba menjaga dan merawat ibunya dengan penuh kasih saying. Suatu hari, ibu beruang yang sedang sakit minta dicarikan ikan di sungai.
Bruno…Buba! Ibu ingin sekali makan ikan. Kalian mau mencarikannya khan? Kata Ibu beruang.
Iya, Bu. Apapun yang Ibu minta, kami akan mencarikan, kata Buba dan Bruno. Kemudian, mereka berangkat.
Asyiiik….kita bisa sekalian main. Kita khan sudah lama tidak ke sungai…cihuiii….Kata Bruno.
Tapi ingat Bruno! Kita tidak boleh terlalu lama. Ibu kan sedang sakit. Kasihan kalau Ibu kita tinggal terlalu lama,ujar Buba.
Ah…sebentar saja kok. Paling gak sampai sore, kata Bruno.
Mereka berjalan menyusuri sungai. Tak lama kemudian, mereka sudah tiba di pinggir sungai yang berair jernih.
Bruno dan Buba masuk ke sungai. Bruno berenang ke sana ke mari sambil sesekali menyelam.
Disbanding Buba, Bruno memang lebih pandai berenang. Bruno berharap ada ikan – ikan berenang didekatnya.
Setelah bereang cukup lama, Bruno melihat ikan tidak jauh dari tempatnya.
Nah itu dia! Ada ikan besar – besar di sela – sela batu, gumam Bruno. Ia segera mengendap – ngendap mendekati bebatuan di pinggir sungai.
huup! Kena kau… teriak Bruno kegirangan.
Sekali terkam, ikan besar itu sudah ada digenggaman bruno.
Wah…besar sekali! seru Buba
Ayo, sekarang giliranmu Buba. Apa kamu bisa menangkap ikan besar seperti punyaku? tantang Bruno.
Kenapa tidak? Tunggu sebentar. Aku akan menangkapnya, kata Buba. Ketika melihat ikan berenang di dekat kakinya, Buba langsung menerkamnya.
Huh…ternyata ikan itu gesit sekali. Gerakanku kalah cepat, gerutu Buba saat terkamannya meleset.
Ia penasaran dan mencoba lagi. Saat ada gerakan di bawah ia langsung menyambar.
Auuuuww!Aduuuh! Kepiting jahat! ujar Buba sambil melepaskan kepiting di jarinya.
Ha…ha…ha….! Buba…Buba! Masa kamu gak bisa membedakan kepiting sama ikan? Bruno terpingkal – pingkal.
Enak saja! Aku khan gak tahu kalau yang bergerak di dekatku itu kepiting! sungut Buba.
Tanpa mereka sadari, tidak jauh dari tempat itu ada seekor buaya dating mendekat. Pelan – pelan, ia berenang ke arah Buba.
Awas Buba! Ada buaya! Cepat naik ke sini….!Teriak Bruno.
Hah! Bu….bu……buayaaaaaa….. jerit Buba sambil berlari ke tepi sungai.
Buaya itu mengejar Buba dengan mulut menganga lebar.

Melihat keselamatan Buba terancam, Bruno segera mengambil potongan kayu. Ia melemparkannya kea rah mulut buaya yang menganga.
Buaya tidak sempat menghindar sehingga kayu itu mengganjal mulutnya.
Ayo….Buba! Cepat lari sebelum kayu itu lepas! teriak Bruno.
Buba berhasil keluar dari sungai.
Oooh….untung kamu menolong aku, Bruno. Kalau tidak, aku pasti sudah dimangsanya, kata Buba dengan napas terengah – engah.

Ayo…kita cari tempat lain saja, jangan – jangan, teman – teman buaya itu mengejar kita, ajak Bruno.
Sambil membawa ikan hasil tangkapannya, mereka berjalan melewati pepohonan yang banyak tumbuh di tepi sungai.
Awas…..ada buaya lagi, Buba! teriak Bruno. Keduanya kaget melihat ada seekor buaya di bawah pohon yang roboh.
Buba langsung meloncat ketakutan. Sementara, Bruno sudah menyiapkan tongkat pemukul.
Hati – hati Bruno, buaya itu pasti akan menyerang kita, seru Buba mengingatkan.
Tapi buaya itu sama sekali tidak menyerang. Hanya ekornya saja yang bergerak – gerak.

tolong aku, beruang. Badanku tertindih pohon. Aku tidak bisa bergerak, kata Buaya.
Pelan – pelan Bruno mendekati. Hei….ternyata buaya ini masih kecil. Kasihan dia, ujarnya.
Sudah, biarkan saja Bruno. Tidak usah ditolong! Aku tadi hamper celaka gara – gara buaya. Jadi buat apa menolongnya, kata Buba.
kita harus menolongnya, Buba. Apa kamu tidak kasihan?
Hmmm….tapi kalau dia menyerang gimana? kata Buba.
Buaya itu khan masih kecil. Ayo…cepat ke sini. Bantu aku mengangkat pohon ini, kata Bruno.
Kemudian, ia dan Buba mengangkat pohon tersebut.
Terima kasih beruang, kalian baik sekali. Oh, ya. Kenalkan. Namaku Buya, kalian siapa?”
Aku bruno dan ini saudaraku Buba,kata Bruno.
Kalian habis mencari ikan ya? tanyanya.
ya, tapi di sana tadi ada buaya yang menyerang Buba. Jadi, kami akan mencari di tempat lain, kata Bruno.
Aduuuh….maaf ya kalau ada buaya yang menyerang kalian. Sudah ya, aku harus pulang. Ibuku pasti sudah mencariku, kata Buya lalu berjalan kea rah sungai.

Sepeninggal Buya, bruno dan Buba kembali ke sungai.
Hati – hati, jangan terlalu di tengah! Buba mengingatkan.
Tenang saja Buba. Di sini kana man! jawab Bruno.
Namun tiba – tiba, muncul dua ekor buaya mendekati keduanya. Tentu saja Bruno dan Buba ketakutan dan berusaha berenang menjauh sebisanya.
Hei…Bruno! Buba! Jangan takut. Ini aku, seru Buya.
Bruno dan Buba merasa lega saat melihat Buya. Tapi begitu melihat buaya yang ada di samping Buya, keduanya langsung gemetar.
Tenang, kawan. Ini ibuku. Ingin meminta berterima kasih kepada kalian.”
ya beruang kecil. Terima kasih sudah menyelamatkan anakku. Maaf ya, tadi sudah mengejar kalian, kata Ibu Buya.
Sekarang naiklah ke punggung ibuku. Kita cari ikan sama – sama, ajak Buya.

Bruno dan Buba naik ke punggung Ibu buya. Mula – mula, mereka takut. Tapi lama – lama, keduanya malah tertawa senang.
Mereka mendapatkan ikan besar – besar. Setelah merasa cukup, Bruno dan Buba diantar ke tepi sungai.
Makasih, ya, kata Bruno dan Buba. Merekapun segera pulang.
Sesampai di gua, mereka segera menemui Ibu Beruang.
Lihatlah, Ibu! Kami membawa ikan banyak.
Wahm banyak sekali .! seru Ibunya kaget.
Tadi kami dibantu buaya., lanjut bruno.
Lalu mereka bergantian bercerita kepda Ibunya.
Ibu Beruang tersenyum
Kalau kita berbuat baik kepada yang lain, pasti kebaikan kita akan dibalas. Mungkin oleh yang kita tolong, bisa jadi oleh yang lain. Allah tidak pernah lupa membalas kebaikan hambaNYA, kata Ibu Beruang sambil memeluk kedua anaknya.

By Sjamsu drajad dengan beberapa perubahan

AKU TIDAK MAU NAIK ANAK UNTA 11.12

Ummu Aiman adalah ibu asuh Rasulullah Saw. semasa kecil, dan beliau sangat saying kepadanya. Sering beliau mengajak Ummu Aiman untuk bersenda gurau.
Pada suatu hari, Ummu Aiman menemui Rasulullah Saw. Setelah mengucapkan salam, Ummu Aiman berkata, Wahai Rasululllah, tolong naikkan aku ke unta.
Rupanya Ummu Aiman sedang ada keperluan. Dia indin meminjam unta. Rasulullah tidak segera melaksanakan permintaan ibu asuhnya. Beliau berkata, Saya akan menaikkan Ibu ke punggung anak unta.
Mendengar kata kata Rasulullah, Ummu Aiman heran.
Anak unta tidak akan kuat mengangkut tubuhku, aku pun tidak tega menaikinya. Rasulullah tersenyum.
Saya tidak akan menaikkan Ibu kecuali ke punggung anak unta. Tentu saja Ummu Aiman tambah bingung. Rasulullah kemudian berkata.
Bukankah setiap yang dilahirkan oleh unta disebut anak unta, wahai Ibu?
Baru sesudah dijelaskan oleh Rasulullah Ummu Aiman dapat emmahaminya. Iapun kemudian ikut tersenyum.


Dari berbagai sumber


Ali yang HEBAT
Suatu hari, Rasulullah dan para sahabat diundang bersilaturahim ke rumah salah seorang sahabat. Seperti biasa, kalau bertemu di forum yang santai, para sahabat akan bergurau dan bercanda. Rasulullah membiarkan para sahabat untuk bersantai.
Setelah Rasulullah dan para sahabat menikmati hidangan besar, tibalah saatnya hidangan pencuci mulut. Pencuci mulut yang dikeluarkan yaitu kurma.
Para
sahabat memperilakan Rasulullah untuk mengambil lebih dahulu sebagai penghormatan.
Setelah itu para sahabat baru berani mengambil kurma.
Tapi ada sesuatu yang aneh. Setiap kali habis makan, Ali bin Abi Thalib selalu menggabungkan
biji kurmanya dengan biji kurma bekas Rasulullah. Kebetulan dia duduk di samping Rasulullah.
Para sahabat tidak memperhatikan perilaku aneh Ali sampai ali menyelutuj, Hebat ya
Rasulullah, kita makan baru sedikit, beliau sudah makan banyak kurma.
Semua mata sahabat tertuju pada tumpukan biji kurma di hadapan Rasulullah. Mereka semua tertawa. Rasulullah tetap tenang. Sambil tersenyum, beliau menanggapi,
Sehebat hebatnya Rasulullah, tapi dia makan kurma hanya buahnya saja, tidak sama bijinya…..
Spontan mata semua sahabat kemudian mengarah kepada Ali. Yang jadi sasaran tembak hanya bisa tersenyum sambil garuk garuk kepala.
Dari berbagai sumber

Aku Bisa Merapikan Tempat Tidur Sendiri 11.01



Mama sedang merapikan tempat tidur. Ali tiba – tiba langsung masuk.
Horee….tempat tidur Ali sudah rapi!” teriak Ali. Ali berguling – guling di atas tempat tidur. Tentu saja, tempat tidur tersebut langsung berantakan lagi.
Ali! tegur Mama.
Maafkan Ali ya, Ma?
Ehm..merapikan tempat tidur itu susah ya Ma?
Oh…mudah sekali, saying, kata Mama.
Mulai besok Ali merapikan tempat tidur sendiri deh, Ma.
Alhamdulillah, kata Mama senang

Esok paginya, Ali sholat subuh bersama dengan Papa dan Mamanya. Tapi ia lupa merapikan tempat tidurnya. Ih, tempat tidurnya berantakan sekali.
Mama, tempat tdur Ali masih berantakan, Ma!kata Ali.
Ali kan mau merapikan tempat tidur Ali sendiri, kata Mama
O, iya, Ali lupa, Ma!
Ali merapikan tempat tidur sambil berkomat – kamit sendiri.
Seprei harus ditarik kencang.
Satu…dua, tariiik!”
BRAAAK!
Seprei lepas.
Ali jatuh ke lantai.
Aduh….! Ali nyengir kesakitan.
oh, jadi kusut!
Sret! Sret! Ali menarik – narik seprei.
Tetapi sepreinya masih tetap belum rapi.
Aku tahu! Ujung seprei harus dimasukkan ke bawah kasur!”
Slup! Slup!
Ali memasukkan ujung seprei ke bawah kasur.
Alhamdulillah, sepreinya menjadi rapi.
Ehm…sekarang merapikan selimut! gumam Ali sendirian.
Supaya rapi, selimutnya harus diapakan ya?
O iya! Harus dilipat! seru Ali senang.
Wut! Wet! Wut!
Ali melipat selimut dengan cepat – cepat.
Yaa…kok gak rapi?
Mungkin harus pelan – pelan…..
Weeeer!
Ali membentangkan selimut lagi.
Lep! Lep!
Ali melipat selimut pelan – pelan.
Sesudah itu bantal – bantal pun dirapikan.
Tempat tidur Ali menjadi rapi sekali.
Puas deh rasanya.
Anak Mama semakin pintar, kata Mama senang.
Hadiahnya cium pipi saja, Ma.

Ali senang sekali. Dia sudah bisa merapikan tempat tidur sendiri.
Kamu bisa gak merapikan tempat tidur sendiri?
By : siswo dengan beberapa perubahan.

Asal-usul danau Toba 10.27

Di sebuah desa di wilayah Sumatera, hidup seorang petani. Ia seorang petani yang rajin bekerja walaupun lahan pertaniannya tidak luas. Ia bisa mencukupi kebutuhannya dari hasil kerjanya yang tidak kenal lelah. Sebenarnya usianya sudah cukup untuk menikah, tetapi ia tetap memilih hidup sendirian. Di suatu pagi hari yang cerah, petani itu memancing ikan di sungai. "Mudah-mudahan hari ini aku mendapat ikan yang besar," gumam petani tersebut dalam hati.

Beberapa saat setelah kailnya dilemparkan, kailnya terlihat bergoyanggoyang. Ia segera menarik kailnya. Petani itu bersorak kegirangan setelah mendapat seekor ikan cukup besar. Ia takjub melihat warna sisik ikan yang indah. Sisik ikan itu berwarna kuning emas kemerah-merahan. Kedua matanya bulat dan menonjol memancarkan kilatan yang menakjubkan. "Tunggu, aku jangan dimakan! Aku akan bersedia menemanimu jika kau tidak jadi memakanku."

Petani tersebut terkejut mendengar suara dari ikan itu. Karena keterkejutannya, ikan yang ditangkapnya terjatuh ke tanah. Kemudian tidak berapa lama, ikan itu berubah wujud menjadi seorang gadis yang cantik jelita. "Bermimpikah aku?," gumam petani. "Jangan takut pak, aku juga manusia seperti engkau. Aku sangat berhutang budi padamu karena telah menyelamatkanku dari kutukan Dewata," kata gadis itu. "Namaku Puteri, aku tidak keberatan untuk menjadi istrimu," kata gadis itu seolah mendesak. Petani itupun mengangguk.

Maka jadilah mereka sebagai suami istri. Namun, ada satu janji yang telah disepakati, yaitu mereka tidak boleh menceritakan bahwa asal-usul Puteri dari seekor ikan. Jika janji itu dilanggar maka akan terjadi petaka dahsyat. Setelah sampai di desanya, gemparlah penduduk desa melihat gadis cantik jelita bersama petani tersebut. "Dia mungkin bidadari yang turun dari langit," gumam mereka. Petani merasa sangat bahagia dan tenteram. Sebagai suami yang baik, ia terus bekerja untuk mencari nafkah dengan mengolah sawah dan ladangnya dengan tekun dan ulet. Karena ketekunan dan keuletannya, petani itu hidup tanpa kekurangan dalam hidupnya.

Banyak orang iri, dan mereka menyebarkan sangkaan buruk yang dapat menjatuhkan keberhasilan usaha petani. "Aku tahu Petani itu pasti memelihara makhluk halus!" kata seseorang kepada temannya. Hal itu sampai ke telinga Petani dan Puteri. Namun mereka tidak merasa tersinggung, bahkan semakin rajin bekerja. Setahun kemudian, kebahagiaan Petan dan istri bertambah, karena istri Petani melahirkan seorang bayi laki-laki. Ia diberi nama Putera. Kebahagiaan mereka tidak membuat mereka lupa diri. Putera tumbuh menjadi seorang anak yang sehat dan kuat. Ia menjadi anak manis tetapi agak nakal. Ia mempunyai satu kebiasaan yang membuat heran kedua orang tuanya, yaitu selalu merasa lapar.

Makanan yang seharusnya dimakan bertiga dapat dimakannya sendiri. Lama kelamaan, Putera selalu membuat jengkel ayahnya. Jika disuruh membantu pekerjaan orang tua, ia selalu menolak. Istri Petani selalu mengingatkan Petani agar bersabar atas ulah anak mereka. "Ya, aku akan bersabar, walau bagaimanapun dia itu anak kita!" kata Petani kepada istrinya. "Syukurlah, kanda berpikiran seperti itu. Kanda memang seorang suami dan ayah yang baik," puji Puteri kepada suaminya. Memang kata orang, kesabaran itu ada batasnya. Hal ini dialami oleh Petani itu. Pada suatu hari, Putera mendapat tugas mengantarkan makanan dan minuman ke sawah di mana ayahnya sedang bekerja. Tetapi Putera tidak memenuhi tugasnya. Petani menunggu kedatangan anaknya, sambil menahan haus dan lapar. Ia langsung pulang ke rumah. Di lihatnya Putera sedang bermain bola.

Petani menjadi marah sambil menjewer kuping anaknya. "Anak tidak tau diuntung ! Tak tahu diri ! Dasar anak ikan !," umpat si Petani tanpa sadar telah mengucapkan kata pantangan itu. Setelah petani mengucapkan kata-katanya, seketika itu juga anak dan istrinya hilang lenyap. Tanpa bekas dan jejak. Dari bekas injakan kakinya, tiba-tiba menyemburlah air yang sangat deras dan semakin deras.

Desa Petani dan desa sekitarnya terendam semua. Air meluap sangat tinggi dan luas sehingga membentuk sebuah telaga. Dan akhirnya membentuk sebuah danau. Danau itu akhirnya dikenal dengan nama Danau Toba. Sedangkan pulau kecil di tengahnya dikenal dengan nama Pulau Samosir.

sumber : http://alkisah.ateonsoft.com/2009/01/cerita-anak-asal-usul-danau-toba.html

Kisah raja dan kura-kura 10.13

Di Benares, India, hidup seorang raja yang sangat gemar berbicara. Apabila ia sudah mulai membuka mulutnya, tak seorang pun diberi kesempatan menyela pembicaraannya. Hal ini sangat mengganggu menterinya. Sang menteri pun selalu memikirkan cara terbaik menghilangkan kebiasaan buruk rajanya itu.

Pada suatu hari raja dan menterinya pergi berjalan-jalan di halaman istana. Tiba-tiba mereka melihat seekor kura-kura tergeletak di lantai. Tempurungnya terbelah menjadi dua. "Sungguh ajaib!" kata Sang Raja dengan heran. "Bagaimana hal ini dapat terjadi?" Lalu Raja mulai dengan dugaan-dugaannya. Dia terusmenerus membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dengan kura-kura itu.

Sang Menteri hanya mengangguk-anggukkan kepala menunggu kesempatan berbicara. Kemudian dia merasa menemukan cara terbaik untuk menghilangkan kebiasaan buruk Sang Raja. Ketika Sang Raja menarik napas untuk berbicara lagi, Sang Menteri segera menukas dan berkata, "Paduka, saya tahu kejadian sebenarnya yang dialami kura-kura naas ini!" "Benarkah? Bila begitu, lekas katakan," kata Raja penuh rasa ingin tahu. Dengan penuh keseriusan Sang Raja mendengarkan cerita menterinya. Sang Menteri pun mulai bercerita. Kura-kura itu awalnya tinggal di sebuah danau di dekat pegunungan Himalaya.

Di sana terdapat juga dua ekor angsa yang selalu mencari makan di danau tersebut. Mereka pun akhirnya bersahabat. Pada suatu hari dua ekor angsa itu menemui kura-kura yang sedang berjemur di tepi danau. "Kura-kura, kami akan segera kembali ke tempat asal kami yang terletak di gua emas di kaki Gunung Tschittakura. Daerah tempat tinggal kami adalah daerah terindah di dunia. Tidakkah engkau ingin ikut kami ke sana?" tanya Sang Angsa. "Dengan senang hati aku akan turut denganmu," sahut kura-kura riang. "Tetapi, sayangnya aku tak dapat terbang seperti kalian," lanjutnya dengan wajah mendadak sedih. "Kami akan membantumu agar dapat turut bersama kami ke sana.

Tapi selama dalam perjalanan kamu jangan berbicara karena akan membahayakan dirimu," kata angsa. "Aku akan selalu mengingat laranganmu. Bawalah aku ke tempat kalian yang indah itu," janji kura-kura. Lalu kedua angsa tersebut meminta kura-kura agar menggigit sepotong bambu. Kemudian kedua angsa tersebut menggigit ujung-ujung bambu dan mereka pun terbang ke angkasa. Ketika kedua angsa itu sudah terbang tinggi, beberapa orang di Benares melihat pemandangan unik tersebut.

Mereka pun tertawa terbahak-bahak sambil berteriak. "Coba, lihat! Sungguh lucu. Ada dua ekor angsa membawa kura-kura dengan sepotong bambu." Kura-kura yang suka sekali bicara merasa tersinggung ditertawakan. Dia pun lupa pada larangan kedua sahabatnya. Dengan penuh kemarahan dia berkata, "Apa anehnya? Apakah manusia itu sedemikian bodohnya sehingga merasa aneh melihat hal seperti ini?" Ketika kura-kura membuka mulutnya untuk berbicara, dua ekor angsa itu sedang terbang di istana.

Kura-kura pun terlepas dari bilah bambu yang digigitnya. Dia terjatuh tepat di sini dan tempurungnya terbelah dua. "Kalau saja kura-kura itu tidak suka berbicara berlebih-lebihan, tentu sekarang dia telah tiba di tempat sahabatnya," kata Sang Menteri mengakhiri ceritanya sambil memandang Sang Raja. Pada saat bersamaan Raja pun memandang menterinya. "Sebuah cerita yang menarik," sahut Sang Raja sambil tersenyum. Dia menyadari kemana arah pembicaraan menterinya. Sejak saat itu, Sang Raja mulai menghemat kata-katanya. Dia tidak lagi banyak bicara. Tentu saja Sang Menteri amat senang melihat kenyataan itu.

Sumber : http://alkisah.ateonsoft.com