Zulfa Blog's

Gallery
















Aku disini Kau di sana 13.04


Tanganmu dingin meremas jemari ini. Sedingin salju yang menutupi pohon plum yang berbunga di awal Januari. Sedingin hawa kematian yang berhembus leluasa di kamar jenazah. Sedingin, ah sedingin jiwa kita. Tanpa perlu kata-kata, kita berdua tahu untuk apa kita bersua. Disini, dipinggir pantai dengan hamparan pasir putih engkau menggenggam ruas-ruas jariku kuat, seolah menyatakan keenganan untuk berpisah. Tak ada aksara. Apalagi belai manja. Hanya debur ombak bermain dengan camar saja. Ironis, di depan elok semburat jingga mentari, kita diam dalam pikiran dan luka yang menyayat rasa.

“Ia mulai curiga. Sering ia mengecek ponselku diam-diam,” kataku memecah sepi. Kamu bergeming, hanya merapatkan pelukmu di pinggulku. Tak ayal kusenderkan kepalaku di pundak, mencari kehangatan. Ah bukan, tepatnya berusaha mencari perlindungan dari rasa gentar juga gelisah yang makin meraja.

“Mungkinkah ini waktu bagi kita tuk berpisah?” tanyamu tanpa berani menatapku. Dan aku diam tergugu, sebuah pertanyaan pahit dengan kadar kebenaran. Ada pedih didalam hatiku. Ada hati yang teriris-iris mendengar kata-katanya. Perih. Aku menutup telingaku, tak mau mendengarnya bicara lagi. Oh, duhai Lelaki.. Tolong... Tolonglah aku. Kumohon berhentilah bicara.

“Ku harap hidupmu bahagia dengan atau tanpaku,” bisikmu lirih ditelinga seraya menyibakkan ikal anak rambutku. Kata-katamu bagai pisau tajam yang merobek jantung. Ingin rasanya kutampar saja bibirmu namun kulihat dadamu turun naik. Susah payah berusaha menghirup oksigen banyak-banyak untuk mengisi rongga paru, tanda kau pun mulai tak mampu mengontrol rasa yang mengharu biru. Situasi yang sungguh aku benci; terluka oleh Lelakiku yang dengan topengnya berusaha kuat padahal sisi dalam hatinya mungkin sudah hancur berkeping-keping juga.

Lirih katamu tadi kusambut dengan titik air menggantung di sudut mata. Bagaimana mungkin aku tidak menangis? Siapakah yang mampu berpisah denganmu wahai Lelaki. Engkau yang menghias malam-malamku dengan lelucon jenaka, yang menyapaku di pagi hari dengan pesan-pesan puitis nan romantis, yang menemani hari-hariku dengan segala rengekan manja juga polah merajuk yang gila. Lelaki lain mungkin sudah menyerah menghadapiku, namun kamu tidak. Kamu terus ada, sabar juga setia. Setia jadi tempatku berkeluh kesah, setia meyakinkanku bahwa rasa itu nyata dan terus bertumbuh. Dan sekarang? Setelah kita berdua sedemikian yakin akan rasa ini, realita menampar rasa. Menghempaskan mimpi kembali ke bumi.

Semenjak hari itu, semenjak sore kelabu itu, kulalui setiap detik waktu dengan sengsara menahan rindu, teringat belai kasihmu. Dengan tatapan kosong memandang kotak ajaib di ruang tamu padahal pikiran ini melayang jauh pada memori kencan-kencan rahasia kita. Dengan isak yang tertahan diujung kamar (hati-hati jangan sampai suami mendengar) terbayang kecup mesra bibirmu melumat bibirku. Dengan kuah sayur yang berlebih takaran asinnya karena terngiang semua kata-kata gombalmu. Rayuan sampah yang sesungguhnya mampu menggetarkan sukmaku. Dan hari-hariku pun kelabu. Tak ada warna disitu, karena tak ada kamu. Aku ini bagai mayat hidup yang berusaha menjalani hari. Yang tersisa hanya raga padahal jiwa dan roh sudah melayang meminta bersamamu jika bisa.

Senja Merah

“Bagaimanakah aku bisa bahagia jika tak ada kau dalam hidupku?” suaraku tercekat menahan tangis di gagang telepon. Setelah sekian hari, mungkin tujuh, tak mampu lagi logika mengatur hati. Hati yang memerintah logika, jadi kutelepon dia. Namun senyap yang menyambut kata-kataku. Tak ada jawaban, hanya helaan nafas saja yang terdengar. Beberapa saat kemudian ada jawab dari seberang sana,“Temui aku ditempat biasa.”

Dan begitu melihatmu di ujung senja pantai kesayangan kita, aku menghambur dalam peluk kekar tanganmu. Tangisku pecah. Ah, sedemikian aku rindu pada Lelakiku, pada suara bariton khasmu yang selalu mampu menenangkanku, pada wangi jantan yang membuatku merasa aman. Dan kamu pun mengangkatku hingga sejajar dagu, lalu bibir ini bersatu. Berpagutan liar seolah lama tak bersua padahal hitungannya tak lepas seminggu saja. Meluapkan emosi tertahan yang menyiksa. Liar, panas, ganas. Senja elok itu ditutup dengan dengan gumulan tubuh yang berpeluh. Berdua nafas kita tersengal riuh.

Bukan kali pertama kita berusaha berpisah, karena kata orang cinta kita ini cinta terlarang. Entah siapa yang membuat aturan bahwa ini cinta terlarang, cinta halal atau haram. Aku benci aturan itu! Aturan konyol yang memaksa memadamkan cerita kasih ini. Namun entah mengapa, setiap kali mengambil keputusan untuk menyudahi roman cinta, setiap kali pula gagal. Paling lama tak bersua dari Ahad ketemu Ahad saja, namun rindu yang menggedor jiwa lebih keras dari keputusan untuk berpisah. Ah, sepertinya cinta sialan yang terlarang ini begitu kuat, mencengkeram erat bagai maut mengintai daging sekerat. Persetan dengan terlarang, ke laut saja itu norma. Kau adalah dosa terindah yang pernah kubuat dan jika ku harus dirajam karenanya... Biar, biarlah itu adanya. Kau. Aku. Kita. Teronggok mesra di ujung senja merah itu, bergemuruh, berusaha mencurangi takdir dan waktu. Entah sampai kapan mampu begitu......

HARI YANG ANEH 09.24

Kabut pagi ini masih tebal, membawa dinginnya dibuta ini, embun diatas ilalang tak jua mengering, dan burung seriti itu beterbangan tak tentu arah.
Pagi yang cerah, angin berhembus lembut mendamaikan hati, terlintas di fikiranku sepotong wajah yang selalu mengusik hati, wajah yang selalu membuatku merasa kanngen berat. Wajah itu lembut, putih langsat, dan Nampak selalu senyum merendahkan hati. Dian! Itulah nama empunya wajah cantik itu.
Dian. namanya begitu sederhana, tapi gadis ini tak kalah indah, dia begitu sederhana, baik, dan tidak pernah sombong terhadap siapapun!
Disaat aku merasa sepi karena tak ada seorang pun yang mampu membuatku nyaman, membuatku merasa terlindungi, dan membuat hari-hariku terasa bermanfaat. Disaat hati bertanya-tanya pada Sang pencipta tentang kehidupanku yang sendiri. Kapan seorang bidadari dengan segala kelembutannya itu dating padaku? Sesungguhnya hal itu tak perlu ditanyakan lagi pada Sang khalik, karena aku yakin Dia sudah mengatur segala sesuatu yang berjalan di bumi ini. Aku sebagai mahluk ciptaan-Nya yang lemah hanya bias wait and see.
Disaat itu datanglah sosok yang ku impikan, seorang ghadis dengan sepasang sayap putih lebar tertempel di punggungnya, dengan tongkat yang ia bawa, ia kelihatan lebih indah. Wajahnya tak terlihat jelas, hanya cahaya putih yang ada saat itu. Siapa dia? Benarkah Tuhan mendengar seruanku? Dan kini Dia mengirim bidadari-Nya untuk menemanmiku?
“Bangun! Cepet mandi! “
“Iya bu, sebentar! Masih ngantuk ni..!” jawabku malas. Ibu tak menyerah, diseretnya selimut yang aku gunakan untuk tidur sehiongga aku merasa kedinginan, dan ibu mengoyok-oyok tubuhku hingga aku bosan dengan gangguan tidur semacam ini. Seprti biasa, ibu lagi-lagi membuat tidurku tidak nyaman. Lalu dengan malas aku ke kamar manid dengan mata yang masih merem-melek!
Sejam kemudian aku, ibu, bapak, adik dan masku berkumpulk di meja makan. Acaranya sekarang adalah sarapan pagi.aku suka dengan acara seperti ini, karena kamiu jarangt banget kumpul keluarga seperti yang aku lakukan pagi ini. Bapak sibuk dengan sawahnya, ibu sibuk dengan sapinya, adik sibuk dengan temen-temen mainnya, dan kakakku masih sibuk dengan ujiannya. Hari ini hari minggu, kami semua makan dengan khidmad, berbincang-bincang dengan banyak hal.
“Bagaiman dengan ujianmu, le?” Tanya bapakku pada masku. “ Insya Allah udah siap kok pak!” jawab masku yakin. “yang penting kamu tetep belajar terus ya, le!” kini suara ibu terdengar lebih meyakinkan. “bapak ma ibu selalu mendo’akanmu kok, le! Asal kamu sekolahnya yang bener.” Tambahnya. “ enggih bu!” jawab kakakku sambil manganggukkan kepalanya.
“Kalau kamu gimana sekolahnya? Gak ada masalah kan , le?” giliran bapak menanyaiku. “ baik-baik juga kok pak, malah sekarang aku senang dengan pelajarannya.
“Lho, emang kemaren-kemaren gak suka ya?” Tanya adikku yang masih kecil. Dia baru kelas 4 SD di MI MAARIF, sekolahanya tidak jauh dari tempat kami bernaung, sekitar satu kilometer dari rumah, untuk sampai ke sekolah adikku jalan kaki bersama teman-teman yang lainnya.
“E…h bukannya gitu, dik!” jelasku
“Lha terus apa dong kak?” bapak, ibu sama kakak hanya tertawa kecil melihat kami berdua berdebat. Tak seharusnya kejadian ityu tewrjadi saat sarapan begini. Ah adikku…
“ Nanti setelah makan, bantu ibu cari rumput ya, le!” pinta ibu pada kami berdua, aku dan kakakku, adikku hanya akan mengotori halaman rumah bersama teman temannya.
“O…enggih bu!” jawabku sambil menganggukkan kepala. Lalu ibuku keluar dengan membawa senjata yang basa kami gunakan untuk merumput. Arit! Ityulah nama benda yang kami gunakan. Alatnya hamper sam dengan pisau belati, hanya kalu arit lebih besar dan menyerupai clurit! Bias dibilang sbitlah!
“ Ibu tak ngasah arit dulu ya, biar landhep” kata ibu sebelum beliau pergi.acara makan selesai dan acar ‘bekerja’ dimulai. Ayah mengambil seragam sawahnya yang dekil, dan sepatuinya yang besar tinggi itu beliau kenakan untuk melindungi kakinya. Dan ibu siap dengan sabitnya, bersamaan dengan siapnya kami berdua, aku dan kakakku pergi cari makan buat si-emoh.
“Jangan lupa bawa ‘mujah’nya. Nanti biar gak sakit!” pinta ibu kepadaku. “ siap bu!perlengkapan sudah siap!” jawabku dengan suara senang. “ bagus, le! Nanti bawanya sedikit-sedikit aja, jangan kayak dulu, kalo ‘kabotan’ lagi yang payah ibu!oke?” kata-kata ibu terus kami dengar, sebelem ibu pergi mengambil sabit ia tersenyum dan dengan wajah tuianya itu bibir ibu komat-kamit entah apa yang beliau ucapkan.
“Aku dan mas pergi duluan aja ya, bu! Ntar ibu nyusul kesana” pintaku kepada ibu yang masih siap-siap. “ ya udah sana duluan gak apa-apa, nanti ibu menyusul.” Jawabnya ringan dengan muka jernih meski termakan usia.
Aku dan masku mulai berjalan menuju tempat yang banyak rumputnya. Dan kami senang dengan pekerjaan ini. Mmbutuhkan waktu dua jam untuk menyelesaikan tugas ini. Dan butuh waktu tiga puluh menit untuk kembali pulang. Jadi rata-rata kami merumput selam dua setengah jam. Siang ini panas sekali, musim hujan mungkin dimulai minggu depan, aku merasa lapar dan haus, aku duduk dibawah pohon gnetum gnemon yang ada di ujung ‘galengan’ ini. Kurasakan udara berubah menjadi sejuk, panas matahari sudah tak terasa menghujami diriku yang kecil, rasa laparpun seperti agak berkurang setelah aku menduduki bawah pohon gnetum gnemon ini.
Ku lihat ibuku berjalan mendekatiku, dengan senyumnya yang khas ibu mengulurkan tangannya yang lembut, lalu membawaku melayang menjauhi bumi, ke tempat yang belum pernah aku jamahi, tak ada batasan, terang, dan sulit untuk keluar kembali ke bumi. Tak ada tanda apapun disana, hanya terlihat sekelomp[ok makhluk kecil dengan topi seragam, kira-kira mereka berjumalah sepuluh. Badannya pendek, kakinya tegap, dan sesuatu yang membuatku geli yaitu sepatunya yang besar dan sama sekali tidak cocok dengan ukuran badannya. Aku rasa mereka juga merasakan hal yang kurasakan mengenai sepatu besar itu. Mereka pasti merasa keberatan memakai sepatu yang diberikan ibu mereka, tapi wajah yang mereka tunjukkan berbeda, mereka malah memamerkan kekompakkan mereka dengan gaya berjalannya yang terkesan seperti tentara jadul alias jaman dulu.
“Ada yang aneh dengan kami?” salah satu dari mereka bertanya dengan gaya bicara aneh. Aku menggeleng, “lalu kenapa kamu memandang kami dengasn tatapan seperti itu?”. Aku pun hanya bias menggeleng, wajahnya yang berubah menjadi marah itu membuatku kehilangan percaya diri. Seolah ia tak mengijinkankan aku untuk menjawab pertyanyaannya.
“Sudah berapa lam kamu disini?” mereka sekali lagi bertanya, dan sekali lagi pula aku menggeleng, mereka semakin penasaran dengan sikapku pada mereka, lalu salah satu dari mereka bertanya dengan sopannya. “ dengan siapakah anda kemari?”. “dengan ibu!” kuberanikan untuk menjawab. “dimana sekaang ibumu, nak?” tanyanya lagi. “ aku tak tahu kemana ibu pergi. Seingatku aku diajak ke tempat aneh seperti ini dan ibu menghilang begitu saja.” Kuceritakan apa yang terjadi sebenarnya. Tapi aku semakin bingung.
“Anda tahu apa nama tempat ini?.” Kutanyakan hal itu karena aku benar-benar bingung diman tempat yang sebenarnya sedang ku injak ini? Masihkah di bumi? Atau di luar angkasa? Aku tak ambil pusing, aku hanya menunggu jawaban dari mereka yang kukira juga lebih mengerti tentang tempat aneh ini.
“Benarkah kamu tidak tahu dimana kita sekarang ini?” mereka balik nanya kepadaku, lalu aku menggeleng dan si tua pendek itu mendekat, “ Kasihan sekali kamu nak!”
“kamu mengalami nasib seperti kami, nak! Kamu terjebak di tempat yang tak ada seorang pun mengetahuinya. Apa kamu ingin kembali?”. Aku mengangguk. Dipanggilnya sebuah kendaraan aneh berbentuk bulat tak bermesin itu ke hadapanku, aku terheran-heran. “Kalian menyuruhku menaiki kendaraan aneh ini?” tanyaku heran. “ya, kecuali kau akan tetap disini!” jawabnya ketus. Tanpa piker panjang kali lebar aku menaiki kendaraan itu.
“ Lan, Alan..!”
“ Ada apa? Apa yang terjadi? Dimana kEndaraan ajaibku?”
“Ah, kamu ngomong opo? Dari tadi kamu dicariin ibu, kemana aja kamu?” ternyata itu masku,
“ Aku baru saja berpetualangan dengan sepuluh liliput di negeri tak dikenal.” Jawbku.
“ Waduh, kamu makin ngawur ni ngomongnya.”
“ Bener mas, tadi aku kesana sama ibu, kakak ga ikut sih!” jawabku meyakinkan.
“ Ha?sama ibu? Kemana? Seharian ibu nyari kamu je. Apa itu alas an kamu buat gak ikut merumput?hayo…!” goda kakakku.
“ Ah, ya sudahlah! Mas paling-paling juga gak percya.”
“Percaya apa? Ah, sudah yuk kita pulang! ibu nunggu dirumah tuh.” Pinta kakakku tergesa-gesa.
Kulihat sebuah pohon gnetum gnemon yang berdiri kokoh itu. Ada apa dengan pohon itu? Aku semakin penasaran dengannya, rasanya aku pengen maen kesana lagi, biar aku bias menaiki kwendaraan aneh itu.
Tiba dirumah kulihat ibu khawatir denganku, beliau terus menerus mewnghujani aku dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama. “ kemana saja to kamu itu le? Bikin orang bingung saja!”. “mbok ya bilang kalau mau pergi main!” begitu terus menerus beliau luncurkan hingga beliau merasa bosan dan melanjutkan memasaknya. Sementara aku masih mencoba menjawab teka-teki itu.
“ Biarkan hanya aku yang merasakan hal seperti itu.” Bisikku dalam hati. Ku jatuhkan tubuhku di atas kasur busa tipis itu. Terasa lelah sekali.

AYAH 10.10

dear all.....
about ayah...... semoga bermanfaat dan menambah kecintaan kita kepada beliau.....

_*AYAH*_

Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja

Akan sering merasa kangen sekali dengan ibu

Lalu bagaimana dengan ayah?

Mungkin karena ibu lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata ayah-lah yang mengingatkan ibu untuk menelponmu?

Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, ibu-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang ayah bekerja dan dengan wajah lelah ayah selalu menanyakan pada ibu tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil......
ayah biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda.
Dan setelah ayah mengganggapmu bisa, ayah akan melepaskan roda bantu di sepedamu...

Kemudian ibu bilang : "Jangan dulu ayah, jangan dilepas dulu roda bantunya" ibu takut putri manisnya terjatuh lalu terluka....

Tapi sadarkah kamu?

Bahwa ayah dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.

Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, ibu menatapmu iba.

Tetapi ayah akan mengatakan dengan tegas : "Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang"

Tahukah kamu, ayah melakukan itu karena ayah tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?

Saat kamu sakit pilek, ayah yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata : "Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!".

Berbeda dengan ibu yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut.

Ketahuilah, saat itu ayah benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.

Ketika kamu sudah beranjak remaja....

Kamu mulai menuntut pada ayah untuk dapat izin keluar malam, dan ayah bersikap tegas dan mengatakan: "Tidak boleh!".

Tahukah kamu, bahwa ayah melakukan itu untuk menjagamu?

Karena bagi ayah, kamu adalah sesuatu yang sangat - sangat luar biasa berharga..
Setelah itu kamu marah pada ayah, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu...

Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah ibu....

Tahukah kamu, bahwa saat itu ayah memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya,

Bahwa ayah sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?

Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, ayah akan memasang wajah paling *cool *sedunia.... :')

ayah sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..

Sadarkah kamu, kalau hati ayah merasa cemburu?

Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan ayah melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.

Maka yang dilakukan ayah adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir...

Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut - larut...

Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati ayah akan mengeras dan ayah memarahimu.. .

Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti ayah akan segera datang?

"Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan ayah"

Setelah lulus SMA, ayah akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur.

Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan ayah itu semata - mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti...

Tapi toh ayah tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan ayah

Ketika kamu menjadi gadis dewasa.... Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain... ayah harus melepasmu di bandara.

Tahukah kamu bahwa badan ayah terasa kaku untuk memelukmu?

ayah hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini - itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .

Padahal ayah ingin sekali menangis seperti ibu dan memelukmu erat-erat.

Yang ayah lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata "Jaga dirimu baik-baik ya sayang".

ayah melakukan itu semua agar kamu KUAT...kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.

Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah ayah.

ayah pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.

Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan ayah tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan...

Kata-kata yang keluar dari mulut ayah adalah : "Tidak.... Tidak bisa!"

Padahal dalam batin ayah, Ia sangat ingin mengatakan "Iya sayang, nanti ayah belikan untukmu".

Tahukah kamu bahwa pada saat itu ayah merasa gagal membuat anaknya tersenyum?

Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.

ayah adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.

ayah akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat "putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang"

Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada ayah untuk mengambilmu darinya.

ayah akan sangat berhati-hati memberikan izin..

Karena ayah tahu..... Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.

Dan akhirnya...

Saat ayah melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, ayah pun tersenyum bahagia....

Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu ayah pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?

ayah menangis karena ayah sangat berbahagia, kemudian ayah berdoa.... Dalam lirih doanya kepada Tuhan, ayah berkata: "Ya Tuhan tugasku telah selesai dengan baik....
Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik....Bahagiakanlah ia bersama suaminya..."

Setelah itu ayah hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk... Dengan rambut yang telah dan semakin memutih....Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya....

ayah telah menyelesaikan tugasnya....

ayah, Ayah, Bapak, atau Abah kita...
Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat...Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis...

Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .

Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa "KAMU BISA" dalam segala hal..

Tulisan ini didedikasikan kepada teman-teman wanita ku yang cantik, yang kini sudah berubah menjadi wanita dewasa serta ANGGUN, dan juga untuk teman-teman pria ku yang sudah ataupun akan menjadi ayah yang HEBAT !

Yup, banyak hal yang mungkin tidak bisa dikatakan ayah ... tapi setidaknya kini kita mengerti apa yang tersembunyi dibalik hatinya ;)

Yes i love you so much, Ayah